Selasa, 11 Juni 2013

Sejarah Rubu’ Dan Perkembangannya bag.1




Oleh. Budi Siswanto
I. Latar Belakang
            Jauh sebelum Islam berkembang, kemajuan  pengetahuan dunia dalam bidang astronomi sudah berkembang sangat pesat, hal ini dipicu oleh rasa keingintahuan manusia tentang alam semesta yang terus berkembang. Selain dipicu oleh rasa ingin tahu, keahlian dalam menerapkan pengetahuan astronomi mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar dalam ibadah kepada Tuhan.

            Silsilah sains menunjukkan asal-usul yang sangat rumit. pada abad pertengahan kaum muslimin memasukkan astronomi sebagai salah satu dari sains matematika. Sebagian pengetahuan berasal dari India dan Sansani,  yang termasuk kedalam pengetahuan yang diteruskan selama beribu-ribu tahun dari Babilonia dan mesir kuno, dimana observasi terhadap langit dilakukan dengan rinci dan perhitunggan tahun kalender didasarkan pada  apa yang dapat dilihat dilangit. Perhitungan yang tidak jauh berbeda dari zaman modern.

            Dalam pengembangan dan peningkatan banyak instrumen astronomi, kaum muslimin banyak membuat kemajuan yang begitu penting, seperti membuat alat-alat seperti, astrolobus, kuadran, bencet, armillry sphere dan lain sebagainya. Alat-alat yang baru saja saya sebutkan adalah alat pendukung yang pernah populer pada masa itu. Akan tetapi, alat yang begitu rumit kini di gantikan dengan alat yang sangat sederhana, “Rubu’ Mujayyab / Quadrant Sinus”. Namun alat ini seiring dengan perkembangan waktu, mulai lenyap tengelam oleh kemajuan jaman. Padahal di dalam sebuah Rubu’ Mujayyab/ Quadrant Sinus tersebut tersimpan khazanah keilmuan yang patut digali, dicermati, serta di kembangkan, sehingga kelak akan banyak generasi muda yang mengerti tentang kemuajuan ilmu pengetahuan yang telah dikembangkan oleh nenek moyang kita.

            Walaupun sudah lenyap, namun sampai sekarang rubu’ masih digunakan. Walaupun zaman sudah modern, peralatan yang digunakan untuk pengamatan astronimi sudah canggih, tetapi rubu’ masih tetap digunakan. Para ahli falak di Indonesia terus melestarikannya. Karena rubu’ merupakan khazanah keilmuan yang harus kita jaga agar tidak terkubur oleh jaman. 

II. Pembahasan
A. Definisi Rubu’ Mujayyab
Ada beberapa definisi Rubu Mujayyab yaitu sebagai berikut:
1)     Hendro Setyanto :  Rubu’ atau Rubu’ Mujayyab adalah alat hitung astronimi untuk memecahkan permasalahan segitiga bola dalam astronomi.

2)     Susiknan Azhar : Rubu’ Mujayyab adalah suatu alat yang bebentuk seperempat lingkaran (900) yang digunakan untuk menghitung fungsi geniometris yang sangat berguna untuk memproyerksikan perdaran benda-benda langit pada lingkaran vertikal.

3) Muhyiddin Khazin : suatu alat hitung yang berbentuk seperempat lingkaran untuk perhitungan geniometris.

            Rubu’ biasanya terbuat dari kayu, kuningan atau sejenisnya yang salah satu mukanya dibuat garis-garis skala sedemikian rupa. Alat ini sangat berguna untuk memproyeksikan peredaran benda-benda langit pada bidang vertical.

B. Sejarah Rubu’ Mujayyab Dan Perkembangannya
            Sebagaimana dijelasakan Rubu’  atau dalam istilah astronomi disebut dengan kuadran (quadrant) merupakan Salah satu instrumen awal astronomi, yaitu suatu alat yang digunakan untuk menghitung ketinggian bintang di atas cakrawala atau alat untuk menghitung fungsi giniometris yang sangat berguna untuk memproyeksikan peredaran benda langit pada lingkaran vertical.

            Sebelum dikenal daftar logaritma, perhitungan ilmu falak dilakukan dengan rubu’ ini. Sehingga buku-buku ilmu falak yang ditulis pada  tahun 1930-an, seperti  Badi’atul missal, dan Attaqribul Maqshad, system perhitungannya masih menggunakan rubu’.

Mengenai kapan munculnya rubu’ tidak pasti kapan ditemukan. Di dalam leteratur yang lain bahwa rubu’ (dalam bahasa Arab ) sudah dikenal jauh sebelum islam datang. Pada awalnya penggunaan rubu’ adalah pengganti dari astrolabe.[1]

            Pada abab ke-11, para astronom muslim mesir mulai mengembangkan alat ini. Perputaran harian yang terlihat pada ruang angkasa disimulasikan dengan gerak benang tegang yang terletak pada pusat rubu’, dengan sebuah manik-manik yang bergerak pada benang ke posisi yang berhubungan degan matahari atau bintang tertentu, posisi tersebutdibaca pada tanda-tanda dalam rubu’. Maka benang danmanik-manik menggantikan rete pada astrolabe. Jauh lebih mudah menggunakan rubu’ dibanding dengan menggunakan astrolabe. Rubu’ pada saat itu depergunakan untuk memecahkan masalah-masalah standar pada astronomi ruang untuk garis lintang tertentu.

            Pada abad ke-14 sebuah rubu’ yang halus dan unik dibuat dari gading, bukan kuningan atau kayu. Rubu’ ini memliki dua garis lintang. Bagian dalam, perangkat tanda standar di bagian depan berguna untuk garis lintang Kairo. Sedangkan pada bagian luar, perangkat nonstandard berguna untuk garis lintang Damaskus. Bagian belakang alat ini memiliki kisi-kisi standar yang digunakan untuk memecah maslah-masalah geometri secara numerik. Jenis rubu’ seperti ini pada saat itu dinamakan Rubu’ Mesir.

            Pada abad ke-16 di Afrika Utara terdapat sebuah rubu’ terbuat dari kuningan yang di ukir dengan sangat indah. Rubu’ ini memiliki kisi-kisi sinus standar untuk melakukan fungsi trigonometri. Kisi-kisi ini pada abad pertengahan sebanding dengan penggaris geser yang ada sekarang. Bagian belakang pada alat ini memiliki penandaan yang menarik yang mungkin tidak lengkap. Lingkaran luar kemungkinan menunjukan ekuator langit, lingkaran terkecil tidak diberi tanda dan tidak memiliki fungsi yang jelas. Bulan sabit merupakan proyeksi setereografi dari eklipsi (gerhana).

            Mengikuti jalan perkembangannya, rubu’ telah menyebar ke penjuru dunia, salah satunya Indonesia. Penyebaran itu salah satu nya berkat para asronom muslim yang giat melakukan penggamatan-pengamatan.

            Beberapa tokoh yang berperan dalam pengkembangan rubu’ ini antara lain; al-Khawarizmi[2] ( 770-840 H ), dan Ibnu Shatir[3] ( abad ke-11 H ). Rubu’ Mujayyab yang berkembang di Indonesia adalah jenis Rubu’ yang telah dikembangkan oleh Ibnu Shatir.

Posting Komentar