Tampilkan postingan dengan label Kata Pengantar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kata Pengantar. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Mei 2015

Ada 7 Hukum Alam




Oleh Budi Siswanto


1. Hukum Sebab Akibat

Hukum ini merupakan hukum kehidupan yang fundamental. Segala sesuatu yang terjadi pada diri kita memiliki sebab khusus. Pemikiran adalah sebab, dan kondisi adalah akibatnya. Maka apapun pemikiran yang Anda tebarkan akan berkulminasi pada suatu tindakan yang menimbulkan akibat. Inilah padanan mental dari hukum fisika Newton bahwa “setiap aksi akan menimbulkan reaksi yang sebanding dan berkebalikan”, dan hukum ini berlaku dengan prinsip yang sama.

Karena hukum alam tidak bisa dipastikan, maka penting bagi Anda untuk mengingat apa yang Anda inginkan dan bukan apa yang tidak Anda inginkan. Kualitas berbagai hubungan, misalnya, merupakan hasil dari apa yang telah Anda tebarkan dalam hubungan-hubungan tersebut.

2. Hukum Daya Tarik

Apa yang secara dominan Anda pikirkan akan menarik orang-orang dan lingkungan yang harmonis dengan pikiran-pikiran itu ke dalam kehidupan (seperti yang dikatakan dalam Law of Attraction). Secara metafisik, makin besar vibrasi yang Anda keluarkan, makin besar daya tariknya. Proses ini mirip dengan Hukum Resonansi (mantra).

Anda selalu menarik semua hal yang Anda pikirkan, baik itu positif maupun negatif. Akal sehat senantiasa mengatakan apa yang sebaiknya Anda kerjakan, meskipun seringkali terdapat kesepakatan yang mencegah Anda untuk melakukannya.

3. Hukum Kreativitas

Di luar dua energi interaktif, yin dan yang, jantan dan betina, muncul energi yang ketiga. Terdapat pasokan ide yang melimpah ruah, yang siap untuk Anda ubah, dan seluruhnya secara dramatis akan mengembangkan potensi, kebahagiaan, dan sukses Anda. Segala hal yang tercipta di dunia ini adalah hasil interaksi kedua energi yang saling bertentangan, tapi saling melengkapi. Keduanya berada dalam diri kita, tapi hanya akan efektif jika dimanfaat-kan dan diseimbangkan.

4. Hukum Substitusi

Anda tidak bisa sekadar berhenti melakukan sesuatu. Keinginan kuat atau ketetapan hati sebesar apapun tidak akan tahan dengan kekosongan atau kevakuman yang terjadi terus- menerus. Untuk menghentikan suatu kebiasaan atau sikap, Anda mesti mencari penggantinya. Gantikan pemikiran tentang apa yang tidak Anda inginkan dengan pemikiran tentang apa yang Anda inginkan. Tidak ada sesuatu yang bisa menghilang sama sekali : sesuatu tersebut harus digantikan atau disalurkan ulang dengan substitusi.

5. Hukum Pelayanan

Berhentilah melayani orang lain dengan cara yang sebenarnya tidak Anda inginkan, karena imbalan yang Anda peroleh akan selalu sama dengan pelayanan Anda. Memberi perlakuan kepada orang lain di balik meja dengan cara yang sama dengan di depan meja, pada akhirnya akan berlangsung dengan prinsip yang sama. Anda akan selalu menerima imbalan dengan proporsi yang persis sama dengan nilai dari layanan Anda kepada orang lain.

6. Hukum Penggunaan

Kekuatan alami apapun, bakat atau talenta, akan mengalami kemandekan jika tidak digunakan. Sebaliknya, akan menjadi semakin kuat jika makin sering dimanfaatkan. Ilustrasi yang sangat baik digambarkan dalam kisah seorang tua yang memperlihatkan kepada Rossetti, si pelukis terkenal, beberapa lukisan yang baru saja dibuatnya pada masa pensiun. Rossetti dengan sopan menjawab bahwa lukisan-lukisan itu biasa-biasa saja. Si lelaki tua kemudian memperlihatkan beberapa lukisan lain yang dibuat oleh seseorang yang lebih muda. Rossetti langsung memuji dan mengatakan bahwa di pelukis ini tentu sangat berbakat.

Melihat orang tua itu memperlihatkan gejolak emosi, Rossetti pun bertanya apakah yang melukis itu anaknya. “Bukan. Itu lukisan saya sendiri sewaktu muda. Tapi saya tergoda untuk melakukan hal yang lain dan melupakan bakat melukis saya”, jawab si lelaki tua itu. Bakat si lelaki tua telah melenyap. Manfaatkanlah atau Anda akan kehilangan kekuatan alami itu.

7. Hukum Tujuh

Urut-urutan kejadian berjalan mengikuti Hukum Tujuh atau Hukum Oktaf. Saat not atau nada dasar dimainkan, setiap not diulang bunyinya beberapa kali dan kemudian menghilang intensitasnya. Hukum Tujuh berarti bahwa tidak ada kekuatan yang terus-menerus bekerja dengan arah yang sama. Setiap kekuatan bekerja dalam kurun waktu tertentu, kemudian menghilang intensitasnya, lalu berubah arah atau mengalami perubahan internal.

Tidak satu pun di alam ini yang berkembang mengikuti garis yang lurus. Dan demikian pula dengan kehidupan Anda. Tapi setelah Anda bisa menyesuaikan diri dengan prinsip-prinsip itu, Anda mengalir mengikuti arusnya, bukannya berlawanannya.

Hukum ke Tujuh memperlihatkan bahwa tak ada satu pun kekuatan yang cuma berkembang ke satu arah dan bahwa energi terus berkembang bahkan di tengah rintangan dan interval. Sebagaimana oktaf, segala sesuatu dalam kehidupan ini berjalan dengan vibrasi. Tanpa vibrasi takkan ada gerakan dan dengan demikian tak ada aktivitas yang bisa berjalan dengan cara apa pun juga.


Salam _/|\_ Rahayu

Minggu, 12 Mei 2013

(Bagian 6 / selesai) Hari atau Dino Dalam Bahasa Jawa Wadine Ono



Hari 3 NEPTU 40
Sebagaimana telah diuraiakan di atas, bahwa Hari dan Pasaran memiliki nilai angka yang disebut Neptu. Dalam kaweruh Jendra Hayuningrat, banyak amalan ritual ilmu yang mempergunakan puasa selama 40 hari. Dan bila ritual ini dirasa berat atau bersifat mendesak, misalnya keburu untuk segera digunakan. Maka para pinisepuh menyarankan memakai hitungan NEPTU hari dan Pasaran yang bila dijumlahkan hasilnya 40. Dengan demikian ditemukan ada 3 hari berturut-turut yang nilainya setara dengan 40 hari. Yaitu :
  • Selasa Kliwon + Rabu Legi + Kamis Pahing.
  • Rabu Pon + Kamis Wage + Jumat Kliwon.
  • Kamis Wage + Jumat Kliwon + Sabtu Legi.
  • Jumat Pahing + Sabtu Pon + Minggu Wage.
  • Sabtu Kliwon + Minggu Legi + Senin Pahing.
Untuk lebih jelasnya perhatikan keterangan sebagai berikut :
Jumlah Neptu Selasa (3) + Kliwon (8) = 11
Jumlah Neptu Rabu (7) + Legi (5) = 12
Jumlah Neptu Kamis (8) + Pahing (9) = 17
Jika NEPTU 3 hari berturut-turut tersebut dijumlahkan: 11 + 12 + 17 = 40

Jadi menurut para pinisepuh Kaweruh Jendra Hayuningrat, apabila ada amalan ilmu spiritual yang memakai puasa 40 hari, dapat diringkas dengan cukup dijalankan 3 hari berturut-turut saja. Dengan syarat 3 hari tersebut memiliki jumlah Neptu 40.

Tulisan ini sekaligus menjawab pertanyaan para siswa, yang menanyakan tentang “ mengapa wejangan, Kembul Bujana dan semedian rutin jaman dulu dilakukan pada hari Jum’at Kliwon, atau Selasa Kliwon akan tetapi sekarang koq beralih ke Jum’at Legi. Rahayu...!
***


(Bagian 5) Hari atau Dino Dalam Bahasa Jawa "Wadine Ono"



Karakteristik HARI dan PASARAN 

Menurut para sesepuh dan pinisepuh Kaweruh Jendra Hayuningrat, setiap Hari dan Pasaran memiliki karakteristik tersendiri yang dipercayai berpengaruh kepada baik dan buruknya segala hal yang akan dikerjakan saat hari dan pasaran itu.

Karakteristik Hari, Pasaran dan Neptu

Arti Watak Hari dan Pasaran :
  • Lakune geni gedhe : watak baik, menggambarkan sumber kekuatan
  • Sri Kombang : watak baik, menggambarkan kemasyuran
  • Sri Agung : watak baik, menggambarkan kemuliaan
  • Gigis Wunu : watak kurang baik, menggambarkan kerugian
  • Pathol : watak buruk, menggambarkan penyakit
  • Peso : watak buruk, menggambarkan bahaya
Para sesepuh dan pinisepuh Kaweruh Jendra Hayuningrat juga memakai karakteristik Hari dan Pasaran ini guna menentukan hari untuk menurunkan ilmu spiritual kepada muridnya. Biasanya dicari hari yang berkarakter baik atau memakai dasar hitungan neptu berjumlah 40. Jika dilihat dari tabel diatas, JUMAT LEGI adalah saat yang terbaik, karena menggambarkan sumber kekuatan (lakune geni gedhe). Itulah sebabnya masyarakat Jawa Timur, lebih memuliakan JUMA’AT  LEGI untuk keperluan mencari ilmu spritual. Sedangkan orang Jawa tengah dan Yogyakarta lebih memilih hari JUMAAT KLIWON. Selain memiliki karakteristik baik yang menggambarkan Kemasyuran (Sri Kombang). Hari Jumat sesuai angka neptu berada di Tengah (pancer). Sedangkan Pasaran letak Kliwon juga berada di tengah (pancer). Maka Jumat Kliwon adalah lambang dari diri pribadi sebagai Pancer. Sesungguhnya daya linuwih sejati memang bias dari pengenalan diri pribadi. Ingsun Sejati, Sedulur Sejati, Guru Sejati dan Sukma Sejati semuanya ada dalam diri manusia. Begitu pula dengan hari Selasa Kliwon atau hari Anggara Kasih (Jawa Kuno) memiliki karakteristik yang baik, Sri Rahayu, melambangkan kemuliaan. Namun biasanya ritual pada hari-hari tersebut tidak dijalani dalam sehari saja, tetapi selama beberapa hari. Dengan memakai hitungan Neptu yang memiliki makna keutamaan (daya lebih).


Selasa, 07 Mei 2013

(bagian 2) Hari atau Dino Dalam Bahasa Jawa "Wadine Ono"

Sirklus Tujuh Hari = seminggu
Mencari tahu asal muasal “1 minggu = 7 hari” tidaklah mudah. Cukup sulit mencari kebenaran teori dibalik penentuan “1 minggu = 7 hari”. Banyak teori yang berbeda-beda bahkan saling berseberangan. Ada yang berdasar ajaran agama (kitab suci), Mitos Dewa-dewa penguasa 7 planet, praktek perhitungan geometri primitif dan lain sebagainya.
Tetapi perlu diketahui bahwa tidak semua bangsa meyakini “1 minggu” terdiri dari 7 hari. Misalnya, orang Mesir kuno memakai hitungan 1 minggu = 10 hari. Kalender Maya memakai 13 dan 20 hari dalam seminggu. Orang Lithuania memakai 9 hari dalam seminggu, dan lain sebagainya. Lalu bagaimana dengan siklus hari dalam budaya Jawa?
Sirklus Hari dalam penanggalan Jawa.
Sedangkan dalam budaya Jawa, sistem sirklus hari ada bermacam-macam. Sebenarnya jaman dahulu orang Jawa kuno mengenal 10 jenis minggu. Dari seminggu yang jumlahnya hanya satu hari, hingga Seminggu yang jumlah harinya terdapat 10 hari. Nama macam-macam minggu tersebut adalah Ekawara, Dwiwara, Triwara, Caturwara, Pancawara, Sadwara, Saptawara, Hastawara, Nawawara dan Dasawara.
Untuk lebih jelasnya perhatikan perumusan tata penanggalan Jawa sebagai berikut :
  • Perhitungan hari dengan siklus 5 harian disebut sebagai Pancawara – Pasaran. (Artinya dalam 1 minggu (Pancawara) hanya ada 5 hari)
  • Perhitungan hari dengan siklus 6 harian disebut Sadwara – Paringkelan.
  • Perhitungan hari dengan siklus 7 harian disebut Saptawara – Padinan.
  • Perhitungan hari dengan siklus 8 harian disebut Hastawara – Padewan
  • Perhitungan hari dengan siklus 9 harian disebut Sangawara – Padangon
  • Perhitungan hari dengan siklus mingguan (7 hari) terdiri 30 minggu disebut Wuku.
Namun jaman sekarang yang biasa dipakai hanya 2 jenis minggu saja, yaitu Pancawara (pasaran) dan Saptawara (Padinan). Misalnya Senin Legi, Selasa Pahing dan seterusnya. Perubahan penanggalan Jawa ini terjadi masa pemerintahan Sultan Agung Prabu Hanyakrakusumo di Kerajaan Mataram Islam Jawa Tengah. Saptawara dipakai karena dinilai universal (sirklus 7 hari). Sedangkan Pancawara tetap dipakai karena melambangkan jati diri manusia Jawa yang berbudaya.
Dalam kajian kali ini kita hanya akan membahas Perhitungan hari dengan siklus 7 hari. Atau dalam bahasa Jawa disebut Saptawara (Padinan) dan Sirklus 5 hari (Pancawara).
Dalam kitab Primbon, dijelaskan orang Jawa percaya bahwa hitungan 7 hari dalam seminggu bermula ketika Tuhan menciptakan alam semesta ini dalam 7 tahap. Dimana tahap pertama diawali hari Ahad (Minggu).
  • Pertama, Ketika Tuhan memiliki kehendak ingin menciptakan dunia. Kehendak Tuhan ini lalu disimbolkan dengan MATAHARI yang bersinar sebagai sumber kehidupan.
  • Kedua, ketika Tuhan menurunkan kekuatanNYA untuk menciptakan dunia. Kekuatan Tuhan itu lalu disimbolkan dengan BULAN yang bercahaya tanpa menyilaukan.
  • Ketiga, Ketika kekuatan Tuhan tadi mulai menyebarkan percik-percik sinar Tuhan. Percik sinar Tuhan itu lalu disimbolkan dengan API yang berpijar.
  • Keempat, Ketika Tuhan menciptakan dimensi ruang untuk wadah alam semesta. Dimensi ruang itu lalu disimbolkan dengan BUMI menjadi tempat makhluk hidup.
  • Kelima, Ketika tuhan menciptakan panas yang menyalakan kehidupan. Panas yang menyala itu lalu disimbongkan dengan ANGIN yang bergerak dan petir yang menyambar.
  • Keenam, Ketika tuhan menciptakan air yang dingin. Air yang dingin itu lalu disimbolkan dengan BINTANG yang mirip titik-titik air yang menyejukan.
  • Ketujuh, Ketika Tuhan menciptakan unsur materi kasar sebagai dasar pembentuk kehidupan. Materi kasar itu lalu disimbolkan dengan AIR sebagai sumber kehidupan.
Perlu dipahami bahwa penyebutan elemen (anasir) ini hanyalah sebagai simbol. Bukan merupakan urutan kejadian alam semesta itu sendiri. Simbol inilah yang nantinya digunakan dalam mengenali watak (karakter) hari.
Arti Nama Hari
Dalam penyebutan nama-nama hari disetiap bangsa juga memiliki perbedaan. Dan tentu saja memiliki makna dan alasan tersendiri. Sedangkan nama hari dalam penanggalan Jawa sejak masa pemerintahan Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma di Kerajaan Mataram Islam memakai istilah Arab yang sudah dilafalkan dalam lidah Jawa. Sebelumnya nama hari masih memakai istilah Jawa kuno yaitu :
Nama Hari Siklus 7 hari, Saptawara = Padinan:
  • Radite                     = Akad
  • Soma                       = Senen
  • Anggara                   = Slasa
  • Budha                      = Rebo
  • Respati                    = Kemis
  • Sukra                       = Jemuwah
  • Tumpak/Saniscara  = Setu
Asal kata dan Arti nama Hari (Padinan)
  • Akad (minggu), berasal dari kata Arab “ahad”, yang berarti hari pertama.
  • Senen (Senin), berasal dari kata Arab “istnain”, yang berarti hari kedua.
  • Slasa (Selasa), berasal dari kata Arab “tsalatsah”, yang berarti hari ketiga.
  • Rebo (Rabu), berasal dari kata Arab “arba’ah”, yang berarti hari keempat.
  • Kemis (Kamis), berasal dari kata Arab “khamsah”, yang berarti hari kelima,
  • Jemuwah (Jum’at), berasal dari kata Arab “jumu’ah”, yang berarti hari untuk berkumpul,
  • Setu (Sabtu), berasal dari kata Arab “sab’ah” (sabat), yang berarti hari ketujuh.
Jelas bahwa nama-nama hari yang sampai sekarang digunakan itu (Senin, Selasa dst) merupakan perpaduan peradaban Islam dan kebudayaan Jawa. Dipakai sejak pergantian Kalender Jawa asli (Tahun SAKA) menjadi kalender Jawa Sultan Agung (Anno Javanico – Tahun AJ). Pergantian kalender itu mulai 1 Sura, tahun Alip 1555. Yang jatuh pada tanggal 1 Muharam 1042. Atau bertepatan dengan kalender Masehi 8 Juli 1633. Angka tahun AJ itu meneruskan angka tahun Saka yang waktu itu sampai tahun 1554, sejak itu tahun Saka tidak dipakai lagi di Jawa, tetapi hingga kini masih digunakan di Bali.
Tahun Jawa dan tahun Islam (hijriyah) adalah penanggalan Qomariyah atau sistem Lunar (bulan) yang mengikuti peredaran bulan kepada bumi. Maka perhitungan hari pun dimulai pada senja hari, saat awal munculnya rembulan malam atau saat Maghrib.
Sedangkan tahun Masehi dan tahun Saka Hindu adalah penanggalan Syamsiyah atau sistem solar (Matahari) yang mengikuti peredaran bumi terhadap Matahari. Pergantian hari dalam penanggalan Masehi yang dimulai pada pukul 12 malam.